Mood jelek.. harus segera Move On

Mood jelek kerap mempengaruhi performa kerja karyawan. Sudah merasa bekerja maksimal, tapi atasan menganggapnya kurang. Jika mood sedang turun, semangat “melarikan diri” sesaat dari masalah ini dapat mengobati luka hati.

Konsultan manajemen dan psikologi, Haryo Utomo Suryosumarto, mengatakan bahwa “Seharusnya, ketika merasakan mood turun, karyawan mulai mengidentifikasi penyebabnya. “Dicarikan solusinya agar mood tidak terus turun.”

Jika mood sedang jelek, kata dia, ada baiknya karyawan merenungkan tujuan dia bekerja di perusahaan tersebut. “Apakah tujuan dia bisa tercapai dengan bekerja di perusahaan itu,” katanya.

Bila perusahaan itu memang menjawab tujuan dasar ia bekerja, biasanya mood yang turun ini hanya hambatan sesaat. Tapi jika jawaban dari perenungan itu ternyata perusahaan tak mampu memenuhi standar tujuan pencapaian bekerja, sebaiknya karyawan mulai mengeksplorasi kemampuannya di tempat lain.

 

Di lain pihak, kata Haryo, perusahaan seharusnya menerapkan tolok ukur yang jelas dalam mengapresiasi kerja karyawannya. “Tidak boleh ada penilaian yang subyektif,” ujarnya. Tindakan ini akan memudahkan karyawan mengukur sendiri performa kerjanya. “Dia bisa mengenali sendiri apakah prestasinya mengalami achievement atau justru under-achievement.”

Selain itu, seyogianya perusahaan juga melakukan koreksi atas tindakan yang dianggap merugikan karyawannya. Jika perusahaan sudah mengakui karyawannya menunjukkan penampilan kerja maksimal, secepatnya memberikan penghargaan. “Kalau ada keterlambatan reward, maka harus dikomunikasikan di awal. Kalau enggak, bisa (jadi) bumerang dan mendemotivasi karyawan.”

Pemilik lembaga konsultasi psikologi PSYCHOdiarra, Diding Supendi, memberikan pandangan yang agak berbeda. Menurut dia, mood yang jelek tak akan terlalu mengkhawatirkan lantaran karyawan belum melakukan aksi sama sekali. “Masih di angan-angan, levelnya di bawah motivasi dan dorongan,” kata dia.

Jika mood itu sudah mempengaruhi motivasi, barulah perusahaan patut waspada. Karyawan bekerja dengan setengah hati. Ini artinya, “Perusahaan gagal memiliki karyawan dan sebaliknya membuat karyawan merasa memiliki perusahaan.” Solusinya adalah perusahaan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan menciptakan perasaan saling memiliki.

Di sisi lain, agar motivasi bekerja tidak turun, karyawan mulai melakukan tiga hal. Ia harus menerima kenyataan apresiasi atasan belum saatnya ia terima. Karyawan juga mulai melakukan koreksi atas kekurangan yang dimiliki demi perubahan yang lebih baik, dan ia harus menetapkan goal atau tujuan dia bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *