KEBANYAKAN ANALISA, LUPA ACTION

Ratusan kali kami bertemu dengan orang yg awalnya bilang mau bisnis tp setelah dijelaskan konsepnya, sudah mulai paham, tapi kenapa gak jalan2… Ternyata semuanya dianalisa, kelamaan menganalisa sampai akhirnya lupa untuk melakukan.

Ada yg bilang ini dosa pendidikan, karena terlalu banyak mengajarkan teori yg muluk2 dan tidak aplikatif, masih ada kesenjangan yg sangat lebar antara dunia pendidikan dan dunia kerja/usaha. Dulu waktu masih jadi dosen ada kesan kalau sesama dosen yg nulis jurnal ilmiah yg super duper bikin kepala pusing, yang dosen aja belum tentu paham, apalagi mahasiswanya. Tp entah kenapa ada beberapa teman dosen yg merasa bangga kalau orang lain semakin tidak paham, berarti dia semakin nampak pintar dan jinies gitu loh… Padahal isinya belum tentu bisa dipraktekkan di dunia nyata.. Yg penting rumit, mumet dan bikin endasku mumet cuekot2…

Padahal sesungguhnya orang pintar itu bukan yg minum tolak angin, tapi orang yg mampu membuat sesuatu yg kompleks menjadi sangat sederhana dan mudah dipahami oleh orang lain. Itu baru luar biasa pintar.. Bukannya membuat sesuatu yg sederhana menjadi rumit dan kompleks sehingga sulit dipahami.. Nah kebiasaan buruk di dunia pendidikan akademis itu kebawa sampai sekarang.. Kalau anda seorang auditor yg tugasnya mencari apa yg salah… Atau anda bergerak di dunia desain pabrik / pesawat yg tdk ada toleransi dengan yg namanya kesalahan karena bisa fatal akibatnya, bisa merenggut nyawa orang lain. Anda memang harus menganalisa segala kemungkinan Tapi kalau Cuma sekedar bisnis.. hajar bleh… Analisa terus, gak action2, kapan mau sukses.

Misal nih anda beli franchaisenya Kuentaki Pret Chicken, yg konon harganya mencapai sekian miliar.. Itu sudah disistemkan, itu sudah dipatenkan, mulai cara mengolah ayam sampai memasarkannya. Coba anda analisa semuanya, mengapa cara masaknya harus begini, mengapa bumbunya harus begitu, semuanya anda analisa dan anda pertanyakan kebenarannya.. Dapat duit? Enggak… Analisa yg berlebihan membuat kita nampak pandai padahal sesungguhnya jadi sangat bodoh.. Bisnis itu untuk dikerjakan, bukan dianalisa.. Kita praktisi bisnis, bukan analis bisnisKarena komentar jauh lebih mudah daripada melakukan..

Bentar lagi piala Eropa digelar.. Coba nonton bareng… anda akan mendengar ada orang yg komentarnya seakan dia lebih jago daripada Ronaldo dan Messi.. “Ow… guoblok… gitu aja ndak gol.. wah sikilnya pengkor tuh” Coba tukar posisi… dia yg main… saya jamin 100X lbh ambyar…

Kebiasaan menganalisa secara berlebihan inilah yg membuat mengapa mayoritas sarjana yg puinter2, yg IPK nya suma cumlaude banyak yg berakhir jadi karyawan. Ironisnya mereka dipekerjakan oleh orang2 yg IPK baskom (barisan satu koma). Si baskom tidak mampu menganalisa secara berlebihan.. dia Cuma lihat.. masuk akal gak.. menghasilkan cuan gak.. kalau dia pikir ok, layak dikerjakan,,, maka dia akan langsung take action.. hajar bleh… kerja keras, pasang kacamata kuda, tutup telinga terhadap para komentator dan boom… bisnisnya melejit sekian bulan kemudian.

Bertanya boleh.. tp bukan mempertanyakan. Kritis harus, tp tidak berlebihan Karena dlm bisnis IQ direndahkan sedikit, Emotional Quotient ditingkatkan, karena tidak bisa mood2an kalau bertemu dg byk orang.. Adversity quotient digaskan, karena hanya seorang climbers yg lbh mudah sukses, bukan seorang campers yg takut keluar dari zona nyamannya … Spiritual quotient ditingkatkan, karena rejekinya berasal dari Sang Pencipta.. Financial quotient sangat dipakai, karena harus berurusan dgn pengelolaan uang secara baik dan benar..

Celakanya pendidikan akademis di negeri kita terlalu mengejar IQ semata… Apalagi belakangan beredar di media tentang ranking SMA favorit sepropinsi lah, sekaresidenanlah, se Indonesialah… Bukan tidak menghargai pendidikan akademis lho… Tp itu bukan segala2nya.. Sy dulu cukup joss di matematika, fisika, kimia… tp sy tdk bernafsu utk membuat 2 org putri sy jago di bidang itu.. mengapa? Enggak kepakai buat hidup … Coba bayangkan integral lipat 3.. dx dy dz… mumet kan ? Kapan kepakainya ? Sementara utk bisnis cukup bisa pakai kalkulator warung yg ada kali, bagi, tambah, kurang dan persen. Yg penting bisa ngitung cuan, berani melangkah.. Gagal, perbaiki, coba lagi, sampai sukses…

Ujung2nya di mindset..Karena sesungguhnya bisnis itu sederhana utk dijalankan, tapi menjadi rumit kalau dianalisa. Spt tempat makanan di Jawa.. kalau beli pecel pakai daun pisang, namanya PINCUK… Nah di belahan bumi Eropah, mereka melakukan riset yg lama dan canggih kali utk menemukan wadah makan dari daun.. Ternyata wong Jowo lebih pinter dari wong Jerman… wkwkwkwk

copas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *